0 komentar

Hamster

Hamster: This lively pet hamster will keep you company throughout the day. Watch him run on his wheel, drink water, and eat the food you feed him by clicking your mouse. Click the center of the wheel to make him get back on it.

1 komentar

Keputusan KOALA


Waktu melaju sangat cepat hingga tak terasa hubungan kami sudah berjalan selama kurang lebih 9 bulan. Seperti bayi yang dikandung dalam rahim yang siap brojol memasuki dunia ini yang penuh dengan kebohongan,maksiat dan percintaan. Hubungan gue dengan dita juga seperti bayi yang siap brojol, selama 9 bulan itu hubungan kami pada awalnya masih sangat erat tapi lama kelamaan hubungan kami seakan renggang dan siap putus, seperti bayi yang mau lahir, siap brojol. Gue semakin sulit mempertahankan hubungan ini semakin hari semakin dipenuhi dengan pertengkaran dan amarah, dia semakin sibuk dengan aktivitasnya sehari hari begitupun dengan gue.
Pada suatu hari dita mengajak gue ketemuan di caffe daerah hassanudin, tempat gue menyatakan perasaan gue ke dia. Dita meminta nggak usah dijemput waktu itu, gue berangkat tepat pada jam yang sudah dijanjikan ternyata dita udah nunggu disana. Lalu gue memesan minuman dan mengobrol ringan dengan dita setelah minuman datang dita pun memulai pembicaraannya.
“Di,gimana kabar lo?” Kata dita.
“Baik kok,tumben lo Tanya gituan?” Balas gue
“Maaf ya akhir akhir ini gue jarang merhatiin lo.” Kata dita.
“Iya gapapa kok”. Kata gue, Gue pikir dita mau minta maaf gara gara dia akhir akhir ini jarang merhatiin gue.
“Kayaknya kita udah nggak cocok lagi deh di.” Kata dita membingungkan.
“maksud lo?”
“iya,kita kayaknya udah nggak cocok. Kita putus aja ya?” Tanya dita langsung to the JLEB.
“hah?” balas gue.
“gimana? Maaf banget ya?”
“kalo emang gitu mau lo yaudah deh.” Dari luar gue keliatan cool tapi dalem hati gue ngomong (KEEEENNAAAAAPAAAA LOOOOO PUUUUTUUUSIIN GUUUEEE?)
“yaudah gue pulang dulu ya?” dita pamit,lalu dia pergi naek motornya.
“iya,hati hati ya.” Balas gue sok cool.
Setelah dita meninggalkan tempat gue nggak langsung pulang, gue masih disitu merenung sendiri. Apa yang salah? Gue nggak salah,dia juga, kita berdua juga nggak salah. Mungkin yang salah adalah ketika dua hal yang saling tidak bisa dipertahankan masih tetap dipertahankan. Seperti bayi yang mau lahir ketika terus dipaksa didalam rahim rasa sakitnya akan semakin menjadi jadi, dan hubungan kita udah kayak bayi yang mau lahir, kita udah nggak kuat mempertahankan ini dan akhirnya kita putus. Lalu gue pulang meninggalkan segelas ice tea punya gue dan coffe late punya dita yang udah dibayarin dita waktu pamit pulang tadi. Emang waktu kita baru putus rasa sakitnya emang gak berasa diawalnya, tapi lama kelamaan sakit banget, waktu pulang aja gue masih mikirin perkataan yang keluar dari mulut dita tadi. Akhirnya gue sampe rumah dengan lesu dan hati yang masih sakit. Gue duduk di kursi ruang keluarga sampai nyokap gue dateng.
“aldy,kita minggu depan ke Jogja lhoooo.” Kata nyokap dengan girang.
“hah,ngapain?” Tanya gue lesu.
“ya jenguk abang kamu sambil ngerayain karena kamu udah masuk ke SMA itu,asyik ya.” Lagi lagi nyokap kegirangan.
“yee asik.” Kata gue yang masih males.
“Kamu kenapa sih nggak semangat gitu,ih jadi sebel deh mama.”
“aku habis putus ma.”
“hah? Kamu abis putus sama si anu?” Tanya nyokap.
“iya sama si anu”
“kamu kenapa putus sama si anu,pasti kamu yang salah ya. Kan si anu orangnya baik.”
“mungkin. Mungkin juga kita berdua yang salah.” Jawab gue datar
Mungkin jika orang lain melihat pembicaraan gue sama nyokap pasti bingung. Dan gue kesannya seakan punya hubungan sama alat kelamin orang. Lalu bokap dateng yang sedang memarkirkan mobilnya di garasi.
“kamu kenapa dy lesu gitu? Tanya bokap.
“ini nih si aldy abis putus lagi.” Sambung nyokap gue.
“apa,putus lagi? Pasti kamu yang salah. Kalo jadi laki laki itu harus perhatian jangan dicuekin,palingan kamu juga terlalu cuek sama si anu.”
“mungkin juga ya pah,atau mungkin kita berdua yang salah”
“yaudah kamu cepetan mandi,bau kamu udah kayak monyet habis lari marathon tuh.”
“gue udaaahh mandiii paaahh,dari tadi malahan.” Bales gue sewot.
“yaudah papah masuk kekamar dulu (brrroooottt. Papah pergi sambil meninggalkan suara kentutnya yang vibra itu.)”
Gue masih berpikir dikursi itu. Kenapa seseorang baru bisa dikatakan lengkap jika dia sudah mempunyai pasangan hidup? Kenapa nggak bisa dikatakan lengkap dengan hobinya,kesukaannya, kenapa harus dikatakan lengkap jika mempunyai pasangan?. Gue memperhatikan papah masuk ke kamar gandengan sama mama, gue juga pernah bergandengan tangan seperti papah dan sensasinya itu memang indah banget. Mungkin itu yang membuat banyak orang yang mengatakan kalau hidup kita bakalan lengkap jika kita sudah mempunyai seorang pendamping.
Gue seakan induk koala yang sudah melepas anaknya pergi untuk menjalani hidupnya sendiri,gue melepas cinta kita yang dulu kita jaga seerat mungkin. Gue nggak akan diam terus merenungi apa yang barusan terjadi, gue bakalan terus memanjat naik mencari hati ternyaman untuk gue singgahi dan akan pindah ke orang yang menurut gue paling nyaman. Seperti koala dia akan terus memanjat naik mencari dahan pohon ternyaman untuk dia singgahi dan dia akan pindah ke pohon lainnya jika dia sudah merasa tidak nyaman dipohon itu. Setelah kejadian ini pertanyaan besar gue dulu mulai terjawab : “dia ternyata memang bukan orang yang tepat.”. Dan ini adalah keputusan gue yang paling tepat sebagai ‘KOALA’.