Saat suapan terakir itu masuk ke
dalam mulut, hape gue berbunyi lalu gue lihat ternyata ada sms dari nyokap.
“dy, gimana kamu udah makan kan?”. Lalu gue balas “udah ma,ini juga baru
makan!”. Lalu gue meneruskaan makan gue, setelah itu gue pulang dari acara sama
temen temen gue di Madiun yang lumayan lama juga, maklum kalo nyokap segitunya
bingung kalau gue lagi pergi jauh dari rumah.
Memang
nyokap gue itu selalu bingung jika anaknya itu lagi nggak ada di rumah. Hal ini
sudah gue jalani sejak gue SMP, dulu waktu gue SMP gue selalu di antar jemput
oleh nyokap naek motor. Gue sebenarnya malu sama temen temen gue pada saat itu
karena kebanyakan dari temen gue naek sepeda saat berangkat sekolah, gue
sebenarnya juga ingin naek sepeda tapi apa boleh buat sepeda gue aja rusak
masak gue harus berangkat sekolah terbang naek elang? Dulu kalau nyokap pas
nganterin gue di depan gerbang sekolah selalu sambil ngomong gini “aldy,hati
hati yawh trus belajar yang rajin. Ai laf yu” trus gue bales “ai laf yu to ma”
setelah gue masuk kelas, gue sukses di ejek.
Cap
sebagai anak mama juga masih melekat ke diri gue sampai saat ini akibat dari
terlalu perhatiannya nyokap gue. Hal ini juga terjadi saat gue sudah SMA sekarang
ini, hal ini membuat gue merasa tidak nyaman kalau gue sedang keluar sama temen
temen, karena gue sering sibuk sendiri balesin sms nyokap atau ngejawab telepon
nyokap. Gue juga nggak tahu apa yang ada di pikiran nyokap itu, apa nyokap
berpikir kalau gue itu anak SMA labil yang masih bingung nentuin jati dirinya
sebagai laki laki tulen atau homo yang sering grepe grepe laki laki lain? Ya
mungkin itu sebuah rasa perhatiannya orang tua kita ke anaknya kali.
Saat
itu gue lagi menyiapin barang bawaan gue buat study tour ke Jogjakarta, sebuah
kota yang terkenal sebagai kota pelajar, gue juga berharap kalau setelah gue
pulang dari jogja nanti gue jadi pelajar beneran bukan pelajar yang sukanya
lari lari sambil nyolong jemuran orang lain. Saat gue lagi masukin baju baju ke
tas gue nyokap nyamperin.
“kamu bawa apa aja?” kata nyokap.
“ya bawa seadanya ma, baju sama celana”
“kalau sempak udah bawa?”
“hah?” Tanya gue heran,nyokap mana juga yang kalau anaknya
mau bepergian jauh malah Tanya sempak?, mungkin itu
terlalu perhatiannya nyokap gue sehingga hal terkecil pun tidak lupa.
“udah bawa belum?” Tanya nyokap gue lagi.
“udah ma, bawa dua nih malahan”
Kurang itu, nih mama tambahin” lalu nyokap gue membuka
lemari dan memasukan ke dalam tas segebok sempak.
“ma kan tournya cuma satu hari kenepa bawa sebanyak ini?”
jawab gue sewot. Mungkin nyokap gue itu khawatir kalau gue masih ngompol di jalan
trus dia juga khawatir kalau nanti gue bakalan nyolong sempak.
“ini demi kesehatanmu aldy”
“tauk ah” gue makin sewot.
“Trus keripik tempe juga udah
bawa?” memang nyokap gue ini nyokap yang aneh.
“buat apaan lagi keripik tempe?”
gue makin sewot.
“ya nanti kalau kamu kangen mama
seenggaknya ada keripik tempe” apa hubungannya coba keripik tempe sama nyokap.
Terbukti bahwa nyokap gue memang aneh.
Gue segera menutup tas gue sebelum
nyokap gue masukin barang yang makin aneh. Dengan gue membawa keripik tempe dan
sempak yang sangat banyak ini saja gue sudah sangat khawatir, bagaimana kalau
nanti keripik tempenya di jalan hancur trus nancep di sempak dan saat gue mau
ganti sempak akhirnya t***t gue berdarah karena ketancap sama keripik tempe
yang hancur tadi? Akhirnya gue tidur mempersiapkan diri buat besok. Keesokan
harinya gue mandi pukul 04.00 karena bus berangkat pada jam 05.00, lagi lagi
nyokap gue kembali bingung sendiri melihat anaknya mau pergi jauh, “nak nanti
dijalan hati hati ya, kalau naik bus jangan ngebut biar selamat” padahal yang
nyupir bus kan bukan gue kenapa gue yang disuruh pelan pelan? Satu lagi bukti
kalau nyokap gue aneh.
Sampai disekolah gue diantar sama
nyokap yang paling gue sayang, ternyata di sekolah sudah banyak orang yang
nunggu untuk berangkat. Seperti biasa nyokap menitip oleh oleh yang juga aneh
yaitu “daster”. Di depan sekolah nyokap juga masih bingung dan serasa nggak
rela kalau gue bakalan ke jogja, nyokap aja ngomong gini.
“dy, kamu beneran bakal sehari di
jogja nanti?” kata nyokap.
“iyalah ma, cuman satu hari aja”
“cepet pulang ya nak”
“ya ampun ma, gue kan belum
berangkat!”
“yaudah hati hati di jalan”
“iya ma”
Setelah gue berpamitan ke nyokap,
gue langsung menyusul teman teman yang ternyata sudah pada ngumpul semua.
Bawaan teman teman gue ternyata tidak seaneh gue yang membawa segebok sempak
dan keripik tempe. Setelah beberapa saat bus yang ditunggu telah datang, nggak
telat dan tepat waktu. Kita semua langsung menuju masing masing bus yang telah
ditentukan, di dalam bus bukan hanya satu kelas tapi dari kelas XA sampai Xi
ada, busnya juga nyaman nggak terlalu sempit. Gue langsung mengambil tempat
duduk di belakang sendiri di pojokan kiri, memang itu posisi favorit gue kalau
lagi naik bus, entah kenapa gue suka duduk di pojokan, kalau gue duduk di
pojokan rasanya itu nyaman banget dan yang pasti bisa lihat cewe cantik yang
ada di pinggir jalan atau kalau lebih ekstrim gue bisa ngeledekin bapak polisi
yang ada di pinggir jalan, gue ngeledekinnya sambil bawa bawa sempak gue yang
segepok tadi trus gue lemparin ke bapak polisi.
Perjalanan berjalan lancar, nggak
macet dan nggak ada kendala apa pun. Gue di bus duduk di sebelah temen gue yang
namanya wally, wally ini orangnya lucu dia juga suka banget ngobrol di
perjalanan aja dia cerita terus lama kelamaan rasanya pingin gue menyumbat
mulut wally pake sabun mandi agar dia nggak ngoceh terus, tapi niat itu gue
urungkan karena disini nggak ada sabun mandi trus kalau mulut wally berbusa di
dalam bus juga nggak ada UKS. Perjalanan telah berlangsung selama 1,5 jam dan
mulut wally udah agak diam nggak terlalu rame kayak tadi, gue berniat mau tidur
sejenak saat gue memejamkan mata hape gue berbunyi, gue lihat ada sms dari
nyokap yang Tanya udah sampai mana lalu gue balas sampai “baru mau masuk solo
ma”. Beberapa saat kemudian nyokap gue kembali sms, lalu gue pilih profil silent dan membiarkan beberapa sms dan
telepon dari nyokap tidak terbalas. Dan gue memilih untuk melanjutkan tidur.
Setelah semua bus masuk kota
jogja tujuan kita yang pertama adalah museum afandi yang merupakan museum
tempat menyimpan koleksi lukisan karya afandi dan beberapa anaknya. Setelah
kita masuk kedalam museum, semua peserta tour langsung di arahkan ke dalam
sebuah museum yang menyimpan barang peninggalan dari afandi. Mulai dari kaos
yang pernah di pakai oleh afandi, penghargaan yang pernah diterima oleh afandi,
sampai mobil pribadi afandi juga ada di situ. Di dalam museum yang bagian
pertama tersebut tidak hanya terdapat barang peninggalan dari afandi tetapi
juga ada lukisan lukisan dari afandi yang sepertinya tidak untuk diperjual
belikan. Gue mengelilingi museum tersebut bersama teman gue ridho namanya, gue
perhatikan setiap lukisan yang dipajang memang afandi pantas disebut sebagai
master dalam hal melukis. Setelah kita berkeliling ke semua penjuru museum
akirnya gue dan ridho terhenti di sebuah lukisan yang diberi nama oleh afandi
“naked”. What? Dalam hati gue bergumam “ini judul lukisan apa judul porn
film?”, memang yang dilukis oleh afandi adalah sesosok perempuan yang terlihat
telanjang sambil tiduran tengkurap. Dan di penjelasan lukisan tersebut ternyata
yang di lukis oleh afandi adalah istrinya sendiri.
“lukisan ini terlihat sangat pas,
dari segi warna dan posisi” kata ridho sok tau..
“ooo iya bener tuh” jawab gue sok
tahu (padahal dalam hati gue berkata, ini lukisan orang telanjang mana bagusnya?)
“betul kan, memang lukisan ini
sempurna” kata ridho, memang dia orang yang sedikit ngerti tentang lukisan.
Beda dengan gue yang nggak bisa bedain antara lukisan dengan gambar poster.
“tapi kok ada yang aneh ya?”
jawab gue
“apaan?”
“coba deh lihat tuh bokong sama
badannya nggak proporsional” di dalam lukisan itu bokong sama badannya terlihat
lebih besar bokongnya. Satu satunya orang yang terlihat proporsional dengan
keadaan tubuh seperti itu hanyalah orang yang masih bayi karena dengan keadaan
tubuh seperti itu bayi akan terlihat lebih unyu beuuuddhh.
“ah yang bener, hmmm iya betul
juga bokong sama tubuh lebih besar bokong” jawab ridho.
“tu kan bener, gue memang jeli
kalau hal beginian” lalu gue dengan ridho manggut manggut di depan lukisan yang
hanya memperhatikan bokongnya. Mungkin kalau orang lain ngelihat kelakuan gue
sama ridho mungkin kita berdua dianggap autis kali.
Lalu teman kami cewe datang, “hei
kalian lagi ngapain?”. “uh ini, ee anu bokongnya bagus” jawab gue bingung. Lalu
sebelum pembicaraan tentang bokong dimulai lagi ridho mengajak gue pergi dari
situ. Setelah lama keliling museum afandi gue beristirahat di sebuah caffe yang
ada di dalam museum tersebut, lalu gue melihat hape gue ternyata ada banyak sms
sama telepon dari nyokap. Tidak lama kemudian nyokap kembali telepon gue.
“halo, kamu kemana aja sih di
telepon mama susah banget?”
“tadi masih sibuk ma, ada tugas
buat ngerangkum juga soalnya.”
“ya seenggaknya telepon dari mama
diangkat dong.”
“iya ma maaf.”
“gimana keripik tempenya masih
utuh?”
“ma kenapa yang ditanyain malah
keripik tempe?” kenapa nyokap gue malah tanya tentang keutuhan keripik tempe
bukan tanya tentang keutuhan mental gue yang down tadi setelah ketahuan
merhatiin lukisan bokong.
“ya kan kalau keripik tempenya
hancur juga rugi.”
“Terserah deh ma!” jawab gue
sewot.
“yaudah yang penting disana kamu
hati hati ya nak”
“iya ma”
Telepon terputus.
Setelah beristirahat perjalanan
di lanjutkan menuju taman pintar, ini sebenarnya adalah sebuah wahana wisata
buat para anak kecil. Jadi kalau gue masuk ke dalam taman pintar serasa lagi
tamasya dengan para ibu ibu pkk yang juga sedang membawa anaknya ikut
bertamasya. Di dalam taman pinar ini menurut gue biasa biasa aja, nggak ada hal
yang terlalu menarik perhatian gue jadi disini gue hanya menghabiskan waktu
dengan berkeliling dan beristirahat di masjid. Setelah dari taman pintar perjalanan
kita lanjutkan menuju ke kasongan, yaitu tempat sentra kerajinan gerabah yang
berasal dari tanah liat, yah seperti tadi disini tidak ada hal yang terlalu
menarik. Akhirnya gue memilih untuk sholat ashar sambil beristirahat lagi di
masjid.
Perjalanan akhirnya dilanjutkan
menuju ke malioboro, tempat yag peling sering dikunjungi wisatawan kalau lagi
ke jogja. Kita pakir bus di alun alun utara jadi kita harus berjalan atau kalau
mau naik becak agar sampai ke malioboro. Gue akhirnya memilih naik becak karena
memang jarak antara alun alun utara sama malioboro cukup jauh. Setelah sampai
di malioboro kita berjalan kaki muterin malioboro, gue berjalan dengan wally
teman gue yang ada di bus tadi. Saat gue dan wally mau nyebrang dari sebelah
kanan gue ada sesosok makhluk menjijikan menghampiri gue yaitu “banci”. Dia
semakin berjalan mendekati gue sambil tersenyum lebar gitu, dan coba bayangkan
lengan banci itu gede banget dan bahakan gempal trus kakinya berbulu pula,
memang ini banci yang nggak mau perawatan.saat banci itu semakin mendekat gue
langsung berdoa “ya Allah selamatkanlah hambamu dari mara bahaya ini,
sadarkanlah banci itu bahwa gue ini masih laki laki normal yang juga masih
doyan cewe ya Allah. Tolong turunkan dajjal agar banci ini dimakan”. Akhirnya doa
itu tidak terkabul, dan gue segera menggantinya dengan doe yang lebih realistis
“ya Allah semoga gue gak diajak kencan”.
“aku tak mau kalau aku dimadu”
banci itu nyanyi di hadapan gue. Trus gue berpikir siapa juga yang mau dimadu
same lo.
“nih mbak, eh mas” gue ngasih
uang 1000 sambil tangan gue ini gemeteran semua.
“cyin kurang dong, akika ntar mau
makan apa coba?” jawab banci tersebut dengan logat bancinya.
“gue punyanya ya cuman segitu mas, eh mbak”
susahnya kalau ngomong sama banci itu begini kita pasti bingung harus memanggil
banci tersebut pakai mbak atau mas.
“ih lekong deh book”
“yaudah mbak gue mau pergi”
“ih cyin mau kemana, akika
sendirian nih disini”
Gue langsung lari sekencang
kencangnya menghindari kebrutalan banci tadi, gue tengok ke belakang banci tadi
juga ikut mengejar gue sembil teriak gini “WOOIIII berhenti lo” dalam hati gue
bergumam busyet suara lakinya kalau keluar serem juga. Akhirnya gue tetap lari
bersama wally untuk menyelamatkan diri, akhirnya banci tersebut tidak mengejar
gue lagi dan gue akhirnya sukses lolos dari kejaran banci itu.
Setelah gue lolos dari kejaran
maut banci tadi gue mengelilingi malioboro dengan berjalan kaki bersana wally,
setelah beberapa saat kami berhenti di sebuah toko lukisan, disini lukisannya
juga bagus tapi memang tidak sebagus lukisan karya dari afandi tadi. Setelah
melihat berbagai macam lukisan akhirnya gue berhenti di sebuah lukisan yang
manggambarkan seorang perempuan yang sedang membawa bakul dari pasar, gue lihat
wally sangat memperhatikan lukisan itu lalu dia ngomong.
“coba deh kamu perhatikan seolah
olah lukisan ini sedang berbicara sama gue” kata wally
“bicara apa coba?”
“iya, lukisan ini seakan bicara
ke gue”
“apa ibu ibu ini seperti bicara
ke kamu gini ‘waalllyy aku ini ibu kamuuu, akkuuu akan selalu marahhiiinn kamu
kalauuu kamu salaaahhh’. Gitu? Jawab gue.
“bukan, lukisan ini seakan
mengingatkan gue dengan ibu gue” kata wally.
“ibu kamu? Tinggal telepon aja
kan?” Tanya gue.
“iya kalau seandainya masih bisa”
“lah, emang ibu kamu kemana?”
“ibu gue sudah lama meninggal”
“Oh, maaf” jawab gue sedikit
nggak enak.
“gapapa, itu juga sudah lama kok”
jawab wally, gue perhatikan wally masih terus memperhatikan lukisan ibu ibu
tadi. Dengan perkataan wally yang baru keluar tadi seakan membuka mata gue kalau
sebenarnya jarak antara gue dengan nyokap hanya sekali pencetan telepon.
Sedangkan wally jarak antara dia dengan ibunya sudah sangat jauh bahkan beda
alam.
Setelah mendengar perkataan wally
tadi gue langsung ngeluarin hape dan mencari nama nyokap dalam kontak, lalu gue
telepon nyokap.
Ketika gue dengar telepon
diangkat gue segera ngomong terlebih dahulu. “ma ini aku”
“aldy dari tadi mama nelponin
kamu terus”
“iya ma, maaf”
“gapapa, kamu lagi sibuk kali.
Gimana keadaan kamu?”
“gue baik baik aja ma”
“yaudah hati hati ya, yang
penting disana jaga diri baik baik”
“iya ma”
Ttuuuuut, telepon terputus.
Setelah gue keluar dari toko lukisan tersebut gue lantas merubah konsep tentang
kemandirian. Seharusnya semakin tua umur kita, kita tidak semakin ingin mandiri
dari orang tua kita. Seharusnya semakin tua kita semakin kita dekat dengan
orang tua dan bukan sebaliknya. Kemungkinan terbesar yang terjadi pada diri
kita dan orang tua kita adalah orang tua kita bakal meninggalkan kita terlebih
dahulu, seperti esensi kita hidup di dunia ini adalah pindah. Kita yang semula berada dalam dunia yang fana ini juga akan
berpindah ke alam akhirat yang abadi suatu saat nanti, berpindah dari semua
kenangan yang telah dibuat ke kehidupan abadi yang akan meninggalkan semua
kenangan itu. Gue nggak mau suatu saat dimana gue lagi kangen nyokap gue hanya
bisa berharap “seandainya gue masih bisa ketemu nyokap”. Gue juga nggak mau
semua ocehan nyokap gue yang sebenarnya bermanfaat buat diri gue akan hilang
begitu saja. Gue ingin menghabiskan
setiap waktu gue untuk mendengarkan suara nyokap, dan gue ingin selalu
mengangkat semua telepon kekhawatiran nyokap terhadap gue dan bertanya, “kamu
lagi apa?”.
Dan yang paling perlu dipahami
adalah. Sebenarnya terlalu perhatiannya orang tua ke kita adalah gangguan
paling indah yang pernah kita terima.